Saya Positif "hamil (lagi)"? - Part I
Qisya Qonitah, puteri kecil kami yang masih tidur lelap pagi itu. Kami sedang dikampung mendadak pulang karena mama sakit. Padahal baru seminggu kami dari sana.
Qisya, umurnya tepat 8bulan. MasyaaAllah tabarakallah nakk. Rasanya baru kemarin mengandung Qisya sekarang sudah tumbuh besar murah senyum masyaaAllah, sudah bisa berdiri sambil lepas tangan ya nak dan paling senang kalau dengar adzan. MasyaaAllah
Alhamdulillah, pagi yang indah dikampung halaman. Meski rasanya badan masih cukup lelah setelah menempuh perjalanan -/+ 480 Km Makassar-Masamba.
Iseng-iseng Berhadiah
Keisengan dipagi hari, lagi beberes tas nemu test pack yang ternyata selalu ikut kemana-mana saya pergi. Oh iya beli ini gegara pernah telat dua pekan lebih (haha), gak sempat test udah datang bulan duluan.
![]() |
| ( pict by Tribuntravel.com ) |
Apa itu Test pack? Saya rasa yang sudah menikah semuanya sudah tahu hehe. Yah test pack merupakan alat uji kehamilan yang dapat mudah digunakan dirumah untuk mengukur jumlah HCG di dalam urine dan dengan mudah didapat di apotek dengan harga mulai 2000an sampai 30ribuan saja. Cara menggunakannya cukup dengan mengikuti petunjuk di kemasan.
Lanjut cerita. Berencana test packnya bakal dibuang saja, tapi kepikiran yah biar gak eman dipakai dulu, dalam hati juga udah yakin hasilnya negatif. Waktu itu baru telat tiga hari jadi masih wajar. Terlambat haid memang merupakan salah satu tanda kehamilan, namun bukan tanda pasti. Kadang haid datangnya lebih cepat seminggu atau lambat seminggu (ini bagi wanita yang siklus haidnya teratur).
Oke oke, muncul dua garis pertanda positif "hamil (lagi)!". Saya nyaris tidak percaya, "ini mah iseng-iseng berhadiah". Mencoba menepis hasilnya, pikirku mungkin karena test packnya kelamaan di tas (halaah, apa hubungannya hehe). Test pack memang merupakan alat dan langkah awal untuk mengetahui kita positif hamil atau tidak, namun seringkali juga hasilnya tidak akurat.
"Baik! hasilnya tidak akurat", pikirku.
Memangnya gak KB? Ya, saya memang tidak KB, karena kami tidak mau membatasi kapan harus punya anak lagi. Keinginan untuk mengatur jarak tentu ada. Untuk idealnya saya menginginkan hamil lagi saat anak pertama sudah berumur 2tahun. Kenapa? agar dapat memenuhi kebutuhan akan ASI anak pertama hingga masanya selesai. Berbeda dengan suami yang menginginkan saya hamil lagi secepatnya.
Diluar dari keputusan kami untuk saya tidak ber-KB, ada Mama yang kadang memberi kode agar saya ikut program KB dengan segudang kekhawatirannya. Wajarlah ketika Mama mengkhawatirkan kondisi fisik dan psikis saya saat harus menghadapi itu.
Ya, hasil testpeck dua garis itu tidak akurat. Hehe
To be continue...



Komentar
Posting Komentar