New experience : Kondisi menyusui saat hamil - Nursing While Pregnant
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu, Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wassallam bersabda,
" Wanita yang sedang hamil dan menyusui sampai habis masa menyusuinya, seperti pejuang di garis depan fi sabiilillah. Dan jika ia meninggal di antara waktu tersebut, maka sesungguhnya baginya pahala mati syahid "
(Riwayat Thabrani).
(Riwayat Thabrani).
♡♡♡
Bismillah...
Sejak dalam kandungan, Si Kecil memerlukan nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya di dalam janin. Begitu pun ketika ia sudah lahir, Ibu juga harus tetap memberikannya nutrisi yang cukup. Hal tersebut dilakukan lewat pemberian ASI (Air Susu Ibu). Pemberian ASI pada bayi adalah hal penting yang tidak boleh diabaikan oleh orang tua, terutama ibu. Sebab, seperti yang telah kita ketahui bahwa begitu banyak manfaat dari pemberian ASI pada bayi terutama manfaat kesehatan. Pemberian ASI ini mempunyai dampak yang positif baik bagi ibu maupun bayi jadi sangat disayangkan jika ibu mampu namun tidak memberikannya.
Masa menyusui adalah masa terpenting bagi pertumbuhan bayi. Nutrisi yang diterima bayi pada masa yang diistilahkan sebagai masa emas (golden age) ini juga diatur dalam Al Qur'an. Disebutkan masa menyusui dalam ajaran Islam adalah dua tahun.
"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan"
(QS al-Baqarah [2]: 233).
Menyusui sampai bayi berumur dua tahun ini sebatas anjuran, bukan kewajiban. Bukan tanpa alasan hal ini sebagai bukti, bahwa ajaran Islam sangat memperhatikan asupan nutrisi untuk diberikan sejak bayi. Adapun kendala jika tidak memungkinkan menyusui hingga 2tahun, maka dapat mengusahakan kewajiban pemberian ASI ekslusif selama 6 bulan pertama sejak bayi lahir.
Seorang ibu tentu selalu ingin maksimal memberikan yang terbaik untuk anaknya, seperti halnya jika dianjurkan untuk menyusui hingga 2 tahun, maka seorang ibu akan mengupayakan itu. Namun bagaimana jika dalam perjalanan seorang Ibu menemukan kendala yang tidak memungkinkan melanjutkan pemberian ASI kepada si Kecil. Tentu sangat berat, apalagi jika harus beralih dari pemberian ASI ke susu Instan. Banyak kesulitan yang dihadapi, selain si Emak yang GALAU berat and si anak yang menolak dot juga belum terbiasa dengan rasa dari susu barunya dan kebiasaan menyusui langsung untuk pengantar tidurnya. Seperti yang sedang saya alami kali ini yang harus mengombinasikan menyusui langsung sambil memberikan susu Instan setelah 8 bulan pemberian ASI.
Sebenarnya saya sudah berencana akan menulis perjalanan saya tentang Nursing While Pregnant (NWP) atau yang disebut menyusui saat hamil, dengan pemberian ASI tok karena sejujurnya saya masih percaya diri bakal bisa menjalankan NWP ini tanpa bantuan susu instan. Tapiiii ternyata dikehamilan ini saya akhirnya dihadapkan dengan sesuatu yang tidak memungkinkan saya harus melanjutkan pemberian ASI tanpa kombinasi susu instan saat anak masih berusia 8 bulan dan saya tengah hamil 9 minggu.
Awalnya banyak yang meyakinkan saya untuk melanjutkan pemberian ASI kepada anak tanpa harus memberikan susu instan sebagai tambahan, termasuk beberapa artikel yang menjelaskan apakah boleh menyusui saat hamil dijelaskan tentu boleh. Bahkan dari cerita teman-teman yang sudah jadi Ibu yang juga hamil lagi saat anaknya ada yang masih berusia 6 bulan dan tetap semangat menyusui hingga si Kakak usia 2 tahun. Secara syari'ah juga tidak ada larangan menjalankan NWP, begitupun dari sisi medis.
Perasaan campur aduk, kaget tentunya saat tau saya hamil lagi, tapi lebih ke bahagia karena akan dikaruniakan seorang bayi lagi dalam kehidupan rumah tangga, di lain sisi khawatir tidak dapat menyusui si Kakak lebih lama lagi. Semangat saya untuk tetap meng-ASI-hi membuat saya bertahan sampai hari ini, alhamdulillah. Yakin bahwa ini terjadi tentu atas ijin Allah Ta'ala. Saya selalu minta kekuatan dan ketenangan, sehingga saya masih yakin melanjutkan NWP.
Qodarullah, seiring waktu mengalami kehamilan ini sambil tetap menyusui tidaklah mudah bagi saya. Meski menyusui saat hamil diperbolehkan selama tidak terjadi Indikasi medis yang dikhawatirkan. Namun, ada sejumlah alasan yang membuat saya harus menyapih si Kakak lebih dini, yaitu saya mempunyai kehamilan kembar dan saya karapkali mengalami nyeri hebat bagian perut dan PD secara intens tiap kali menyusui juga volume ASI mulai berkurang. Diawal kontrol saya sudah konsultasikan ke dokter, alhamdulillah dokter tidak keberatan saya mejalankan ini, katanya "berikan ASInya sedikit-sedikit saja, imbangi dengan asupan MPASI buat si Kakak, jika terjadi kontraksi hentikan dulu sementara baru ibu lanjutkan lagi". Hal ini membuat saya memaksimalkan asupan anak pertama melalui MPASI (Makanan Pendamping ASI) sembari berusaha mengajarkan untuk minum susu menggunakan dot. Nah, beberapa kondisi yang saya hadapi saat NWP sambil memulai menyapih si Kakak.
Saat hamil kita membutuhkan energi yang lebih banyak, sedangkan saat menyusui energi yang dibutuhkan lebih banyak dibandingkan saat hamil. Memiliki tugas dan kewajiban mengurus pekerjaan rumah dan merawat si Kakak ini membuat saya cukup kewalahan namun menyenangkan bagi saya, anak pertama diusianya mulai aktif merangkak kesana kemari dan manjat-manjat membuat saya harus mengawasinya kemanapun dia bergerak, bisa dibayangkan juga harus tetap menyusui saat hamil butuh energi lebih banyak, apalagi adanya mual dan muntah yang saya alami. Alhamdulillah solusinya harus tetap sabar, ikhlas, dan membuatnya tetap menyenangkan sambil memperhatikan kualitas dan kuantitas asupan. Vitamin, air, kalsium, protein, karbohidrat, folat, serat, dan mineral-mineral lain dengan jumlah yang cukup supaya tidak jadi lebih lemas, walau sebenarnya dengan masa ngidam ini tentu sering kali saya mengalami lemas, artinya harus makan dan minum lebih sering, tentunya dengan menu yang bergizi karena hamil sambil menyusui dan tetap menjaga anak butuh tenaga ekstra. Jika ditanya perbedaan saat hamil pertama dengan yang kedua ini, jawabannya tentu banyak yang berbeda, dikehamilan pertama mudah bagi saya ketika lelah yah langsung istrahat saja, ketika tidak sanggup mengerjakan pekerjaan rumah yah bisa ditunda dulu, berbeda hari ini ketika badan lelah dan sakit ada anak yang harus dijaga dan diajak main. Tapi MasyaaAllah bagaimanapun lelah dalam fase hamil kedua ini dengan segudang kewajiban yang gak bisa ditunda justru Allah subhanahu wata'ala memberikan kekuatan lebih untuk menjalankan semua, tentu dengan ini harusnya tidak ada yang mesti dikhawatirkan bagi kita emak-emak, apalagi new emak seperti saya
Yah, kehamilan kedua ini fase mual dan muntah jauh lebih sering yang akhirnya berpengaruh terhadap kondisi fisik yang mudah lelah, kalau jalan bentar udah ngos-ngosan juga, kadang membuat saya mager jika harus berpergian keluar rumah.
Tidak hanya fisik, psikologis juga terkena dampak dari NWP ini. Selain kepikiran akan menyapih lebih dini dengan segala permasalahan yang tidak mudah begitu saja diterima anak saat harus mengganti aktifitas menyusui langsung beralih ke penggunaan dot termasuk ketika anak menolak dot cukup menguras tenaga dan pikiran saya. Adapun saat harus menyusuinya langsung dengan menahan sakit di PD dan perih diperut yang cukup menganggu, tidak dipungkiri kadang membuat saya stres, hehe beberapa kali saya nyusuin sambil nangis karena sambil tahan sakit, dalam hati yaahh masih nyemangatin diri "InsyaaAllah pasti bisa nyusuin Qisya until 2th, insyaaAllah sampai tandem nursing dehh, Biizinillah". Sakit pada PD adalah hal wajar terjadi selain karena saat hamil area PD memang akan lebih sensi juga karena saat kita nyusuin itu menyebabkan hormon oksitosin diproduksi, nah hormon ini yang menyebabkan kontraksi pada PD dan rahim. Gak usah khawatir karena beberapa peneilitian pada kehamilan normal menyebutkan kalau jumlah hormon yang keluar tidak cukup hingga dapat merangsang persalinan.
Jadiii Buibu yang gak ada kendala buat jalani NWP monggo dilanjut saja yang penting ibu dan anak sehat, niat yang penting harus kuat dan juga dukungan keluarga tentu sangat berpengaruh, terkhusus dukungan suami. Kita akan merasa nyaman serta mampu memelihara emosi positif ini karena dukungan suami. Buat saya banyak bentuk dukungan yang suami saya lakukan termasuk membantu mengurus anak dan berempati pada periode mual muntah juga bijak menyikapi perilaku mengidam and always mendampingi saya saat konsultasi ke dokter. MasyaaAllah
Berbeda dari dukungan suami, mama yang tahu saya hamil lagi langsung menyuruh untuk segera menghentikan pemberian ASI kepada si Kakak. Katanya jika pemberian ASI diteruskan akan berakibat kepada janin dan mitosnya lagi ASI yang diminum si Kakak bukan lagi ASI melainkan darah. Mendengar hal itu, saya langsung galau berat dong. Saya yang masih mantap untuk meneruskan pemberian ASI dan paling gak rela mengganti dengan susu formula, jadi kaget mendengar penjelasan ini. Apa iyah? Kenyataannya sejauh ini saya masih memproduksi ASI, darah yang dimaksud itu tidak ada, apa dampaknya kedepan atau bagaimana?. Informasi ini tidak lantas membuat saya langsung mempercayai sebelum mendapatkan fakta dari dokter atau orang-orang yang berhasil NWP juga dari artikel-artikel kesehatan yang valid. Dan hasilnya tentu menyatakan menyusui saat hamil itu AMAN, dengan syarat kandungan sehat dan Ibu kuat. Jadi, keluarnya darah saat menyusui dimasa hamil itu mitos yaa buibu, hanya saja memang produksi ASI akan berkurang namun tidak sampai keluar darah.
Selama NWP tubuh tetap akan memproduksi ASI sehingga kita dapat memilih untuk tetap menyusui. Hanya saja memang ada perubahan-perubahan yang dirasakan. Seperti halnya yang saya rasakan volume ASI berkurang, kalau saya massage yang keluar kadang berwarna putih tapi lebih sering yang keluar seperti putih keruh agak bening dengan produksi lebih sedikit tentunya. Terlihat saat kehamilan saya memasuki bulan ke tiga si Kakak mulai tidak puas saat menyusu yang membuatnya sesekali menangis. Tapi sebenarnya produksi ASI masih bisa ditingkatkan dengan kita menjaga kondisi tubuh dengan mengonsumsi makanan-makanan bergizi yang sehat agar ASI tetap tercukupi.
Meski bukan wanita karir yang kerja pagi pulang soreh dengan segudang kerjaan kantoran atau aktifitas luar rumah lantas saya tidak mengupayakan tercukupnya ASI untuk melanjutkan NWP, No! Saya pun sejak awal melahirkan sudah dihadapkan dengan drama ASI hingga hari ini. Alhamdilillah hingga detik ini dikehamilan 5 bulan, saya masih tetap menyusui.
Meski bukan wanita karir yang kerja pagi pulang soreh dengan segudang kerjaan kantoran atau aktifitas luar rumah lantas saya tidak mengupayakan tercukupnya ASI untuk melanjutkan NWP, No! Saya pun sejak awal melahirkan sudah dihadapkan dengan drama ASI hingga hari ini. Alhamdilillah hingga detik ini dikehamilan 5 bulan, saya masih tetap menyusui.
Ohya sekalian dibahas disini juga yaah, mungkin terlintas dipikiran kita pertanyaan "apakah produksi ASI akan sedikit untuk calon bayi nanti kalau tetap meneruskan NWP ini?"
Penjelasannya; InsyaaAllah ASI kita tentunya akan tetap cukup untuk si adik ketika lahir nanti, why? Karena kinerja hormon di dalam tubuh kita akan mulai mengaktifkan hormon-hormon yang terkait dengan menyusui yakni prolaktin dan oksitosin. Dengan si Kakak yang masih menyusui, ini justru akan memberi nilai tambah dengan mempercepat dan meningkatkan produksi ASI setelah proses melahirkan nantinya, karena kakak akan merangsang kedua hormon tersebut untuk bekerja lebih aktif. Sama halnya saat awal menyusui si Kakak, semakin sering anak nyusu semakin cepat dan mudah ASI memproduksi. So, don't worry yaa buibu.
Kondisi Janin
Dikehamilan ini saya sedang mengandung kehamilah gemeli atau disebut hamil kembar. Sejak minggu ke 9 kehamilan, alhamdulillah dua janin sudah nampak dari pemeriksaan USG begitupun detak jantung yang sudah bisa terlihat di monitor, juga ukuran kedua janin normal sesuai minggu kehamilan.
Meski menyusui masih tetap aman, namun kehamilan kembar ini merupakan salah satu kasus di mana menyapih anak lebih disarankan karena mengandung janin kembar merupakan kehamilan beresiko. Dibanding kehamilan tunggal, kehamilan kali ini lebih banyak hal ekstrem yang rasanya serba double, Alhamdulillah 'ala kulli haal. Mulai dari kenaikan berat badan lebih cepat, nyeri perut, rasa mual berlebih, buang air kecil lebih intens, lebih banyak mengidam, lelah yang berlebih, dan banyak gejala ngidam menyenangkan lainnya (hehe gemesshhh 😂 ).
Tidak dipungkiri, kadang muncul kekhawatiran terhadap kondisi janin dikandungan tiap kali kontraksi saat menyusui, namun untuk meredah itu yah paling ampuh ngusap-ngusap perut sambil terus berdo'a agar Allah senantiasa memberi kesehetan dan kekuatan, juga menjalin komunikasi dengan si Kakak dan janin agar bisa berkompromi terhadap apa yang dihadapi dan diharapkan untuk kesehatan bersama.
Jadi harusnya memang mengandung janin kembar bukan alasan untuk tidak melanjutkan menyusui yah.
Kondisi Qisya si calon Kakak
Mengetahui saya hamil lagi diumur kehamilan saya 2 bulan dan Qisya masih berusia 8 bulan, saya terfokus pada si calon Kakak ini, berharap bisa maksimal tetap memenuhi segala kebutuhan termasuk memenuhi masa menyusui dan tetap bisa menemaninya bermain yang diusianya sekarang rasanya dia memiliki energi tak terbatas. Hehe
Pengalaman ini akan sedikit berbeda. Menyiapkan kehamilan kedua pastinya akan menguras tenaga, emosi dan tidak jarang melibatkan drama karena menyiapkan anak pertama sebagai kakak baru, bagi si kecil nantinya.
Perubahan sikap tidak hanya terjadi pada emak yang mendadak hamil ini "alhamdulillah", Qisya juga tiba-tiba berubah sikap jadi makin rewel dan lebih manja. Terlihat saat Qisya mulai sering menjadikan perut ummi sasaran tempat manjat dan tendangan, kemudian mendadak maunya mepet dan menolak bermain dengan Abi, dan tiap kali nyusu bisa nempel sampai berjam-jam sambil digigit-gigit yang saat ini Qisya sudah punya gigi bagian atas dan bawah, rasanya subhanallah ummi dibuat nyusuin sambil teriak-teriak, nangis-nangis sampai demam demam merinding ngilu gituu. Begitulah, sepertinya dia sedang mengungkapkan rasa cemburunya, hehe kali aja kecemburuan pada anak muncul meski ia masih bayi. Adapun menurut Valerie Mahol Menurut Valerie Maholmes, Ph.D., seorang ahli perkembangan anak dari US National Institutes of Health's Institute of Child Health and Human Development mengungkapkan anak mungkin tidak dapat mengungkapkan perasaannya terutama pada anak yang menginjak usia 1 tahun. “Maka, Ibu jangan heran jika ia bisa mendadak jadi rewel,”ungkapnya.
Merespon sikap tantrum atau cemburu Qisya di saat kondisi tidak fitt alhamdulillah tidak lantas membuat saya meresponnya dengan emosi, meski kondisi fisik dan mood tidak stabil ibu hamil harus tetap bisa mengendalikan jangan malah memperburuk keadaan diri karena malah akan berefek kepada anak. Dengan perubahan sikap ini saya mencoba memahami sudut pandang si Kakak dan berusaha untuk lebih bersabar.
Adapun yang membuat perubahan sikap Qisya mendadak rewel, saat saya akhirnya berkomitmen harus menyapihnya. Namun ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Diusianya 8 bulan Qisya ternyata menolak dot tentu karena belum terbiasa, saya pikir mudah bagi dia menerima susu menggunakan dot karena pernah beberapa kali diusianya 2 bulan mudah saja memberikannya ASI menggunakan dot. Dalam proses menyapih ini sebelumnya terbayang harus tercipta "menyapih menyenangkan tanpa drama" qodarullah harus memulainya dengan drama dulu. InsyaaAllah bagian menyapih ini akan saya lanjutkan di postingan "Drama menyapih, akankah berlalu?".
Menyapih ini memang tidak terencanakan meski jika saya hamil lagi. Saya bertekad untuk menyusui Qisya hingga 2 tahun meski dalam keadaan hamil. Berat rasanya memberikannya susu instan yang tidak begitu yakin bagi saya dengan kandungan susu yang akan diterima oleh tubuhnya. Qodarullah, ternyata dalam menjalankan NWP banyak faktor yang harus saya menyapih Qisya, seperti beberapa poin yang sudah saya jelaskan sebelumnya terutama volume ASI mulai kurang dan tidak memungkinkan akan tercukupi jika Qisya tetap hanya menyusu langsung.
So, bagi ibu-ibu hamil yang masih mampu untuk meneruskan menyusui dalam kondisi sedang mengandung silahkan melanjutkan, bisa juga konsultasikan lebih dulu ke dokter untuk meyakinkan dan memastikan kondisi kehamilan. Pastikan bahwa makanan yang kita konsumsi kaya akan nutrisi sehingga bisa memenuhi semua kebutuhan Ibu, bayi yang telah lahir, dan janin yang sedang berkembang. Paling utama adalah berdo'a kepada Allah ta'ala minta kekuatan dan kesehatan tanpa henti, demi keberkahan dan kebaikan kita juga anak-anak.
Sebenarnya, hanya kita yang mampu mengukur kemampuan kita termasuk tekad ketika akan menjalankan NWP. Ciptakan rasa menyenangkan, memang diawal-awal akan terasa berat karena fase adaptasi kondisi ngidam sambil menyusui dan merawat si Kakak, tapi percayalah semua akan berlalu dengan menyenangkan. Apalagi dengan perubahan perkembangan si Kakak yang seringkali menghibur, melihatnya bertumbuh makin aktif dengan segala kelucuannya. MasyaaAllah, luar biasa kebahagiaan ini yaa Allah, semoga kami bisa mendulang pahala dengan ini (ahhh kan terharu lagii hikzz)
MasyaaAllah yah, kodrat alami kita sebagai wanita untuk menikmati masa mengandung, melahirkan hingga menyusui. Belum lagi baaanyak keutamaan didalamnya, termasuk sebagai jalan menjadi orang tua terbaik dan warisan kebaikan kepada anak sepanjang hidupnya. So, kewajiban bagi kita wanita yang mampu, sebab Allah menciptakan air susu Ibu tentu untuk Anaknya. Adapun ibu yang harus menyapih dalam keadaan hamil lagi karena sesuatu kendala yang dirasa harus lebih ikhlas agar kita dan anak bisa merasa nyaman dan tidak terjadi drama menyapih, Qodarullah.
Semoga pengalaman ini sedikit membantu ibu-ibu yang juga sedang mengalami kondisi yang sama yah. Semoga semua upaya, jihad yang sudah kita lakukan baik yang sedang ikhtiar memiliki anak, yang sedang mengandung, yang sedang menjalankan NWP atau iktiar menyapih, dan yang sedang berjuang melahirkan hingga menyusu menjadi jalan keberkahan dan jalan syurga untuk kita. Aamiin aamiin






Komentar
Posting Komentar